Dari Sebuah Sudut Terlupakan

Oleh Kartini

Jauh dari keramaian pasar, dari kesibukan, kegelisahan, dan ketergesaan kota-kota besar, terpencil dan terasing, tenang dan damailah tempat bernama Jepara!

Pada zaman dahulu kala sebuah tempat yang terhormat, kini selama bertahun-tahun lamanya ia telah menjadi sebuah sudut yang runtuh dan terlupakan, di mana tidak ada apa-apa dan tidak seorang pun datang, kecuali jika mereka harus berada di sana. Tidak ada lagi yang mengingatkan pada kebesaran dan kemasyhuran masa lalu Jepara.

Hanya benteng Portugis tua di sebuah bukit dekat kota, yang sudah terlihat dari jauh saat seseorang mendekati tempat itu dari laut, berbicara tentang hari-hari besar di masa lalu yang jauh, dan sebuah gamelan tua, sangat tua, yang dibunyikan setiap hari Senin pagi dan sore, sehingga dinamai "Gong Senén" (Gamelan Senin), membangkitkan ingatan akan zaman ksatria, ketika di atas nada-nada riuhnya, yang menakuti setiap orang asing karena suaranya yang usang yang tidak layak lagi disebut gamelan, para bangsawan tanah pergi bertanding turnamen.

Hampir setiap orang, yang atas dasar pekerjaannya ditunjuk untuk tinggal sementara di tempat yang sunyi ini, menganggap dirinya sebagai seorang buangan dan melontarkan keluhan putus asa: "Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Dan akankah aku keluar? Akankah aku sudah mati bosan sebelum akhirnya jam pembebasanku tiba?" Tempat yang malang dan kurang dinilai!

Maukah kau menerima itu begitu saja, Jepara, engkau yang di masa lalu menempati posisi terhormat di antara kota-kota yang berarti? — maukah kau mengizinkan dirimu diremehkan dan dihina?

Bangkitlah,angkatlah dirimu! — biarkan dirimu disebut, biarkan namamu disebut dengan hormat dan kekaguman! Karena oh, engkau sendiri tidaklah buruk, Jepara, sama sekali tidak buruk; engkau manis dan menawan dengan ketenanganmu yang damai, jalan-jalanmu yang rindang dan indah yang begitu mengajak untuk berjalan-jalan, sudut-sudutmu yang menyenangkan, terpilih untuk pertemuan-pertemuan ramai penuh canda riang dan kesenangan, alun-alun-mu yang cantik, yang selalu diselimuti hamparan hijau beludru, bertaburan bunga-bunga kecil berwarna-warni, bermekaran dalam petak-petak yang anggun, dikelilingi warringin, di belakangnya rumah-rumah bersembunyi, memamerkan warna coklat kemerahan yang manis dari atapnya dan putih dari dindingnya dalam celah-celah layar tembus pandang dari rimbun hijau yang subur; lautmu yang ilahi, yang membuat kita melupakan segala kesibukan duniawi, mengayun-ayun kita dalam perahu kecil di atas ombaknya yang berkilauan, menyelimuti kita dengan napasnya yang segar, sehat, dan menguatkan; pantaimu yang megah, di mana hati kita terpesona oleh pemandangan alam yang menakjubkan, efek warna dan cahaya ajaib, yang disulap oleh matahari yang tenggelam pada awan-awan langit dan di atas hamparan air yang tak terhingga, berkerut-kerut, yang ombaknya kadang pecah dengan deburan lembut, kadang dengan gemuruh dahsyat di atas pasir putih bersih!

Sayangnya! Keindahanmu tidak berbicara kepada setiap orang!

Bagi mereka, yang harus mendapatkan keramaian dari manusia, engkau dengan segala keindahan alammu, adalah dan tetap merupakan sebuah kengerian!

Oh! Janganlah kau terima penghinaan itu, ingatlah masa lalumu yang terhormat! Bangkitlah, balaslah! Paksa orang banyak untuk menyebut namamu dengan hormat dan kekaguman!

Jika para dewa berkenan padamu— engkau dapat melakukannya!

Karena engkau kaya, Jepara, lebih kaya daripada banyak tempat lain, yang tidak disangsikan, istimewa di atas banyak kota, di mana setiap hari ada kesempatan untuk keluar, bersenang-senang, di mana sangat "sangat, sangat ramai"!

Engkau kaya, engkau istimewa, karena engkau memiliki sebuah permata di dalam dirimu yang akan diiri oleh banyak, sangat banyak orang, jika mereka mengetahuinya, dan yang atasnya Insulinde (Hindia Belanda) bisa bangga!

Di tanahmu melihat cahaya kehidupan,hidup dan bekerja sebuah keluarga seniman yang luar biasa!

Terlalu lama permata berharga ini tersembunyi, terkubur di bawah debu kemalasan, ia harus muncul ke cahaya dan ia akan! Mungkin saatnya tidak lama lagi, ketika perhatian publik luas di negeri ini, dan mungkin juga dari seberang lautan, akan tertuju pada permata yang paling berharga itu, seni rakyat yang indah di Jepara yang terlupakan dan diremehkan!!
Ada harapan,banyak harapan untuk itu!

Telah ada di Negeri Belanda Raya sejak beberapa tahun lalu sebuah gerakan yang bangkit, yang pasti memenuhi setiap hati pencinta Jawa dengan sukacita, karena tujuannya adalah, di Tanah Air, membangkitkan minat, cinta, dan apresiasi untuk Koloni, melalui penyebaran pengetahuan populer tentang negeri-negeri dan bangsa-bangsa di seberang garis (khatulistiwa).

Terutama pengetahuan tentang karya jari-jari cokelat yang lincah, di mana anak-anak alam di negeri-negeri matahari telah menaruh jiwa mereka, akan membangkitkan minat dan apresiasi di hati orang Barat yang mencintai seni untuk saudara dan saudari berkulit cokelat, yang akan menguntungkan mereka dalam segala hal.

Terberkatilah para pemikir, yang telah melahirkan gerakan terpuji ini, memberikan nyawa kepada Perkumpulan Timur dan Barat, yang dalam hidupnya yang singkat sudah dapat menunjukkan banyak karya baik.

Di banyak tempat di Belanda Perkumpulan itu memiliki cabang dan tentu saja juga di Hindia. 

------

Cabang kecil dari Pohon Induk yang ditransplantasikan dari Belanda ke ibu kota Insulinde (Hindia Belanda) berkembang dengan baik di bawah perawatan tak kenal lelah dan unggul dari tangan-tangan terbaik, yang dipercayakan padanya. Di dalam hati banyak orang, tanaman muda itu membangkitkan harapan yang beralasan: ia akan menghasilkan buah yang kaya untuk anak-anak negeri ini, di atas tanah mana ia tumbuh dan berkembang.

Beberapa bulan yang lalu, pohon muda itu berbunga untuk pertama kalinya, dan bagi para perawatnya yang tak kenal lelah dan penuh kasih, itu adalah sebuah kepuasan yang manis, hanya ada satu seruan: "Indahnya!"

Pameran Kerajinan Seni Pribumi yang diadakan pada bulan Juni 1902 di Batavia oleh Bagian Hindia dari Perkumpulan Timur dan Barat adalah sebuah kesuksesan yang nyata.

"Itu adalah sebuah pencerahan!"

Orang tertegun akan kemampuan orang Pribumi yang sederhana! Itu tidak pernah mereka pikirkan, tidak pernah mereka harapkan, bahwa di Hindia ada begitu banyak keindahan dan bisa ada!

Getaran kekaguman melintasi hati, keheranan, kegembiraan, dan kebanggaan bergejolak dalam dada para pencinta, ketika pada pagi hari 8 Juni 1902 pintu-pintu dibuka, memberikan akses kepada arus pengunjung yang lebar dan hampir tak berujung ke dalam kuil, di mana para pecinta seni dan Jawa telah mengumpulkan harta karya seni indah dari negeri sendiri, ungkapan karya artistik orang Pribumi.

Kesuksesannya tak terbendung!
Tujuan tercapai! Perkara dimenangkan!

Di kalangan terkemuka Hindia Belanda, minat terhadap karya dan seni pribumi telah dibangkitkan, dan telah hilang sedikit dari sikap meremehkan yang biasanya dimiliki dunia Eropa terhadap orang Pribumi!

Masih ada keuntungan lain yang dihasilkan oleh karya indah Timur dan Barat bagi orang Jawa: secara finansial. Hanya pada Pameran itu, yang terutama didedikasikan untuk tembaga (meskipun masih banyak benda seni lain yang dipajak), tembaga terjual beberapa ribu gulden dan dipesan ulang dengan jumlah yang sama atau lebih besar.

Sebutlah angka 15.000 gulden. Para pengrajin tembaga Surabaya mendapat pesanan kerja untuk satu tahun. Dan Timur dan Barat boleh bergembira atas peningkatan jumlah anggotanya dengan beberapa ratus orang.

Oh! Dan di antara benda-benda yang dipamerkan, yang pada tanggal 11 Juni telah memesona publik pecinta seni Batavia dan sekitarnya, terdapat beberapa artikel, yang membuat Jepara menjadi beberapa kota yang langka!

Ukiran kayu dari Jepara?
Dengan nada bagaimanakah kata-kata itu diucapkan? Tenanglah, hai yang kurang percaya diri, seni anak-anakmu dihargai dan akan menemukan apresiasi lebih lagi, dalam lingkaran yang besar dan luas!

Dikatakan bahwa Timur dan Barat berniat untuk segera mengadakan sebuah pameran khusus ukiran kayu Jepara.

Apakah berita itu mengandung kebenaran? — kami tidak tahu, tetapi pada bazaar Sinterklaas dari Timur dan Barat di Batavia, yang akan diadakan pada bulan mendatang, di antara banyak benda seni Pribumi akan sejumlah artikel ukiran kayu Jepara, adalah hal yang sudah pasti.

Kalian semua, yang telah mendukung seni rakyat Jepara, atau yang nanti akan berkenalan dengannya, dukungan dan apresiasi kalian akan meningkat, jika kalian tahu bagaimana keindahan yang luar biasa itu diwujudkan!

-----

Ikutlah kami ke sudut kami yang terpencil, ke desa seniman di belakang Benteng Portugis tua di bukit, yang dari keadaan ini mendapatkan namanya Blakang Gunung (yang dipinjam namanya), singgahlah sejenak ke sanggar para pengukir kayu yang terampil, lihatlah mereka bekerja, saksikan ciptaan-ciptaan mereka yang indah dan di sampingnya peralatan kerja yang sangat primitif, yang mereka gunakan untuk berkarya, dan kalian selain rasa kagum dan hormat yang mendalam atas seni mereka, akan merasakan keyakinan yang dalam tumbuh dalam diri, bahwa orang-orang cokelat sederhana itu, yang duduk merendah di tanah, sembah sebagai tanda hormat kepada kalian, adalah seniman-sejati!

Siapakah yang telah membentuk mereka? — siapa yang membimbing mereka? — siapa yang mengajarkan anak-anak sederhana dari pedesaan, menurut peribahasa rakyat "adoh lontjeng, parak tjelleng", untuk dapat menghasilkan karya yang begitu indah, menggambar yang begitu bagus? Siapa? Siapakah?

Lihatlah gambar-gambar mereka, betapa murni dan tak tercela garisnya dan harmonis komposisinya! Tidak ada sesuatu yang memutuskan nada, mengganggu aliran garis yang anggun dan tenang! Baik dalam sulur-suluran, daun-daunan, bunga-bunga, burung-burung, naga-naga, wayang, garis-garisnya selalu sama anggunnya, sama tenangnya, bersama membentuk suatu keseluruhan yang harmonis dan indah.

Dari maestro-maestro siapakah mereka murid yang layak, sehingga mereka dapat menggambar dan berkarya begitu menakjubkan secara artistik?

Ini adalah seni asli, yang telah dipraktikkan sejak zaman tak terhingga dan diwariskan dari ayah ke anak. Seluruh penduduk di Blakang Gunung hampir seluruhnya tidak terdiri dari lain kecuali pengukir kayu dan tukang kayu. Tua dan muda, semua putra Blakang Gunung menguasai seni mengukir kayu, mempraktikkannya, ada yang luar biasa, biasa-biasa saja, atau pun kurang sempurna.

Dan sungguh patut diperhatikan, bahwa hanya di desa yang satu itulah seni indah itu dipraktikkan, meskipun Jepara memiliki lebih banyak desa tukang kayu lainnya.

Beberapa kali pula pertanyaan diajukan, mengapa orang-orang dari desa-desa lain tidak mempraktikkan seni ukir kayu dan juga tidak mempelajarinya. Selalu dijawab: "Mereka tidak bisa, hanya putra-putra Blakang Gunung yang bisa."

Tetapi mengapa tidak bisa, orang akan bertanya. Kepercayaan rakyat yang naif mengatakan, bahwa hanya Blakang Gunung yang beruntung, yang memiliki seorang pengukir kayu sebagai Danyang, dan dia hanya menganugerahkan hadiahnya yang indah kepada keturunannya.

----

Sekarang marilah kita pergi ke kampung kecil di belakang bukit, di mana keluarga besar seniman itu tinggal, dan melihat sekilas ke bengkel kerjanya.

Pertama, naiklah perahu penyeberangan dan seberangi sungai Jepara, yang mengalir di kaki bukit menuju laut, ikuti jalan setapak melalui kampung nelayan kecil, yang membawa Anda ke sebuah dataran terbuka yang luas di tepi pantai.

Berjalan yang tidak menyenangkan, ya, begitu di padang terbuka tanpa pohon, sementara matahari dengan lancangnya menyinari leher Anda.

Ayo,nona muda, jangan lihat begitu sedih, sedikit sinar matahari itu sungguh tidak akan memberimu warna kulit pribumi!

Dan untuk apa payung kecil yang lucu itu, yang kau pegang di tanganmu? Jangan terus merenung, perjalanan ini akan segera berakhir dan apa yang menanti kita nanti, akan membuatmu melupakan bintik merah itu, yang konon dicium oleh matahari tak kenal ampun di leher putihmu.

Ini adalah sungai perbatasan desa, sebuah perahu menantimu, naiklah, para pengunjung, di seberang sana menantimu keajaiban, kebanggaan tempat yang runtuh ini, Jepara!

Sebuah pasukan kehormatan dari anak-anak yang setengah dan sepenuhnya telanjang berdiri di seberang untuk menyambut kedatanganmu. Ya ampun, betapa kotor dan berlumpur mereka, apakah mereka baru saja bermain-main di lumpur?

Para 'penghuni lumpur' itu, para pengunjung, adalah calon seniman! Lihatlah, tanahnya menampilkan bukti bakat mereka. Lihatlah gambar burung-burung dan naga-naga ini, yang digambar di tanah keras dengan bantuan sebuah tongkat kecil atau batu api - apa kata kalian? Dan bagaimana dengan cerita wayang yang digambar dengan arang di dinding kayu pondok jaga ini?

Itu adalah karya jari-jari mungil yang kotor milik anak-anak yang berdiri membelalak, dengan mulut menganga dan mata lebar, menatap kalian, orang asing.

Pukulan palu ringan dan dentingan logam menyambut kalian dengan riang; itulah salam selamat datang dari para pengukir kayu di kampung mereka!

Masuklah, ke pondok bambu beratap rumbia ini, dari mana selamat datang yang tulus diucapkan untukmu! — Hati-hati, membungkuklah, pintunya rendah, kau seolah berkata padaku! — Kau menganggapku bodoh! — Apakah ini sebuah sanggar, gubuk ini? — Di sinikah barang-barang indah itu dibuat, yang kau puji begitu tinggi dan ingin kau tunjukkan padaku? — Dan apakah itu para seniman yang kau kagumi itu, orang-orang yang setengah telanjang di tanah itu?" Sst! Sst! Jangan menilai terlalu dulu, lihatlah sekeliling dan perhatikan baik-baik. Memang benar, transisi dari cahaya terang di luar, ke dalam kondisi remang-remang di dalam ini terlalu besar. Biarkan matamu menyesuaikan diri sebentar, lihatlah sekeliling, perhatikan, dan barulah menilai! 

Kami yakin, kau akan berseru: "Bagaimana mungkin!"

Ya, bagaimanakah mungkin? — itu juga yang kami tanyakan padamu — bagaimanakah mungkin, bahwa di sudut terpencil ini, seakan-akan terasing dan terpisah dari dunia besar yang luas, dalam lingkungan di mana orang tidak mendengar lonceng, di malam hari dengusan babi hutan sering membangunkan orang dari tidur mereka, di dalam tempat yang remang-remang ini, hal-hal yang begitu indah dapat diciptakan dan dihasilkan, oleh orang-orang yang sangat sederhana, yang nyaris tidak memiliki pakaian di badan mereka, dan tidak pernah,

Kami berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan buruk, berukuran sekitar 16 meter persegi, dengan 3 pintu masuk. Di kedua sisinya terdapat bangku-bangku kayu rendah, panjang, dan sempit, yang berfungsi sebagai meja kerja bagi para pengukir kayu. Sebagian besar adalah anak laki-laki muda, remaja, pria dewasa yang masih kuat, dan beberapa sudah berusia lanjut. Mereka duduk berdua-dua di sebuah meja kerja, di atas tanah yang gundul, dengan kaki mereka, yang hanya ditutupi celana pendek yang mungkin pernah berwarna putih hingga sebatas lutut, terentang di bawah bangku. Saat kami masuk, mereka semua melipat kaki mereka, sebagai tanda hormat kepada para pengunjung. Itu adalah cara duduk orang Jawa yang sopan.

Setiap orang memiliki di sampingnya, terletak di bangku, setumpuk pahat (belichtjes) dengan berbagai ukuran, dari ukuran biasa hingga lebih kecil dari pisau pena, potongan-potongan besi pipih dan bundar yang panjang, diasah hingga tajam atau setengah tajam pada satu ujungnya, setiap tumpukan berisi 40 buah. Di depan sang pekerja-seniman terdapat karyanya, sebuah papan tipis setebal lebih dari 1 cm, di mana ia mengukir pola dan gambar yang paling halus dengan pahat dan palu kayunya.

Oh! Lihatlah betapa terampil dan cepatnya dia menangani alat-alatnya, betapa cepatnya dia berganti-ganti pahat. Setiap pukulan palu disertai dengan gemerincing riang pahat-pahat di atas bangku. Dia meletakkan pahat dan palu, tangannya meraba di bawah bangku dan mengeluarkan sebuah kuas kecil, yang digunakannya untuk menyapu serpihan kayu dari karyanya.

Dia sedang mengerjakan sebuah pekerjaan yang rumit, sepotong kayu coklat muda yang indah dengan serat seperti api itu akan menjadi penutup sebuah kotak pekerjaan; itu adalah kayu sonokling dari luar Jepara, sangat keras dan sulit dikerjakan, umumnya digunakan untuk gagang keris, tapi seniman kita tahu cara memanfaatkannya juga untuk seni mereka.

Panel kecil ini harus dikerjakan pada kedua sisinya dan akan dipasang dalam bingkai dari kayu sono yang gelap. Beruntung kombinasi antara kayu terang (mendhalo/mendalo) dengan kayu sono yang gelap itu menghasilkan efek yang sangat mengejutkan - terang melawan gelap - pada penutup kotak tersebut. 

Kayu apakah yang gelap itu, yang sedang dikerjakan oleh para pemuda itu? Itu adalah kayu sonokeling yang telah disebutkan, sebuah produk dari tanah sendiri.

Cantik, bukan, kayu gelap itu dengan serat-serat api yang indah di dalamnya? Namun, bukankah segalanya menjadi indah ketika seniman-seniman terampil itu menghiasinya dengan seni mereka yang indah? Tapi jangan tanya apakah mengerjakannya itu menyenangkan; pahat-pahat yang tumpul, yang harus segera berkenalan lagi dengan batu asah, memberitahumu betapa keras tubuh kayu itu, di mana jiwa sang pengukir kayu hidup dan berkarya.

Mengapa papan itu ditempeli kertas?

Sayangku yang suka bertanya, bisakah kau menggambar gambar arang itu, seolah-olah dengan satu tarikan kuas?

Hati-hati dengan rokmu, Nona, rumah Singo tidak memiliki lantai marmer, dia berlutut di atas tanah alami! Kau tidak mendengarkan; apakah kau begitu terpesona oleh pengamatan terhadap karya pemuda cokelat itu, yang sebelumnya membuatmu mengerutkan hidungmu yang manis?

Kau benar, itu patut mendapat semua perhatian, karena apa yang dilihatnya terjadi di sana di bawah kedua matanya: kelahiran sebuah figur wayang yang anggun di bawah pahat dan palu, ditakdirkan oleh alam, jari-jari yang lincah dan lentur dari sang master artist.

Atau, betapa ramainya, apa yang sedang terjadi, kawan-kawan, mengapa kalian berkerumun?

Itu si pembuat pola dengan polanya! Kau tidak tahu harus memandang ke mana, ada begitu banyak!

---

Pola Gambar dan Kotak

...di atasnya? — itulah pola untuk ukirannya. Lihatlah, para seniman telah merancang pola baru di atas kertas, menempelkannya pada kayu, dan kemudian mengukir mengikuti garis-garisnya, tetapi juga sedemikian rupa sehingga figur-figur itu nantinya akan timbul. Setelah ini, setiap garis diselesaikan secara terpisah, bunga-bunga dan daun diukir dan dibulatkan, bagian-bagian yang harus cekung dibuat sedalam-dalamnya pada latar, yang dibuat mengilap setelah seluruh pola selesai dikerjakan.

Sebelum ini dilakukan, mereka menempelkan sehelai kertas, yang sebelumnya telah diberi lubang-lubang, pada papan yang sudah dikerjakan dan menggosoknya dengan sebongkah arang yang dibungkus dengan campuran minyak dan jelaga/arang. Dalam sekejap, gambar itu dipindahkan ke atas kertas. Sangat sederhana, tetapi sangat cerdik, bukan? Demikianlah pola-pola itu dipindahkan.

Maukah kami membantumu? — mengambil segenggam dari harta keindahan itu, dan mengamatinya di luar dengan cahaya yang baik? — Baik, dengarlah! — kami harap kami telah melakukan pilihan yang beruntung, dengan panel dekoratif yang indah ini, yang bahkan di salon paling artistik pun tidak akan misplaced, untuk membawanya dari tempat persembunyiannya yang tersembunyi dan rendah hati ke dalam cahaya!

Kami mulai dengan membawakan salam hormat kami yang rendah hati, kepada sang perajin yang sederhana, yang menciptakan karya seni yang indah ini! Kekaguman itu lebih besar lagi untukmu, karena engkau sendiri, tanpa bimbingan atau bantuan apapun, telah membawanya ke ketinggian yang sangat mengagumkan dalam senimu yang indah, engkau yang dengan cara yang begitu sederhana dapat menghasilkan hal-hal yang begitu indah!

Tempatmu bukanlah di sana, dalam debu di kaki kami,

...dia berada di tempat yang tinggi di atas sana, jauh lebih tinggi daripada kami, yang kalian sebut "bëndoro", tuan, nyonya, tetapi dalam kenyataannya, kalian dalam segala kesederhanaan kalian lebih unggul karena senimu yang ilahi!

Sungguh pemandangan yang menyenangkan mata, kenikmatan bagi hati, apa yang kau perlihatkan kepada kami di sana, wahai seniman yang rendah hati dan luar biasa: sebuah mimpi indah dari jiwamu yang lembut yang tergambar dalam garis-garis yang indah, temuan yang menawan dan lekukan-lekukan yang lembut! Benar-benar artistik gambarannya dan sempurna pengerjaannya!

Oh! Cobalah ikuti garis-garis itu dalam alurangnya yang anggun, belokannya yang penuh gaya, lekukan lembut daun-daunnya; dengan tenang, tanpa hambatan apa pun, mengalirlah garis-garis mimpi itu, di sini berakhir dalam sebuah pilinan yang anggun, di sana dalam sebuah ayunan yang gemulai seperti gerakan tangan lembut seorang wanita yang menawan!

Keseluruhannya mengungkapkan sebuah keanggunan lembut yang utama, yang ditemukan kembali dalam bunga, setengah dewa dari rakyat Pribumi: aristokrasinya! Apakah kalian tidak merasakan sesuatu dari perasaan yang pasti telah mengilhami sang seniman, ketika dia memberikan bentuk nyata pada mimpi indah jiwanya yang lembut itu, menggambarkannya pada kayu, sekarang saat mata dan jiwa kalian sama-sama menyerap keindahan ciptaannya yang mengagumkan?

Karya seni yang indah! Dibuat dari kayu jati terang yang dipahat tembus, di atasnya dua wayang yang cantik berdiri dalam setengah relief, di bawah kaki mereka ular-ular meliuk, dalam lingkungan yang kaya akan bunga dan sulur-sulur daun, di mana burung-burung kecil berpesta, dibingkai dalam bingkai sono gelap dengan gambar yang berkelanjutan, di mana dua ular mendaki dengan mulut menganga dan lidah bercabang terjulur, seolah siap menggigit tangan siapa pun yang berani merusak karya daun-daunan yang indah yang memahkotai panel kecil itu, yang bertumpu pada dua kaki yang diukir dengan indah dari kayu sono.

Ada kilau yang indah pada ukiran itu, seolah-olah telah dipoles. Dan, oh! Betapa sederhana cara mencapainya. Kilau indah itu diperoleh hanya dengan menyikatnya menggunakan kuas kasar dari ijuk, yang berasal dari pohon aren.

"Wahai, dari mana kau mendapatkan keindahan yang ajaib ini?" tanya seorang pengagum yang terpesona dengan penuh semangat.

Pria sederhana itu, yang duduk merendah di tanah, dengan hormat mengangkat matanya yang selama ini tertunduk rendah dan berkata sederhana: "Dari hatiku, bëndoro."

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Tidak, tidak, permata kecil itu tidak dijual, ia sudah memiliki pemilik. Tuan J. H. Abendanon, Direktur O.E. dan N. di Batavia, adalah pemilik panel perapian yang indah ini.

Kalau begitu, ambillah benda lain yang lebih kecil dari tumpukan besar itu: bingkai foto yang bagus, penyangga potret, kotak foto, kotak rokok, kotak segel, kotak perhiasan, kotak jahit, dan kotak sarung tangan yang indah. Cantik, bukan, nona-nona, kotak-kotak ini dari dua jenis kayu, badan sono gelap dengan penutup kayu ambalo terang dibingkai dalam bingkai sono. Luar biasa ukiran yang menghiasinya! Kotak jahit itu memiliki di bagian atas penutup dua wayang, dikelilingi daun dan bunga; di bagian dalam dua burung dilingkari sulur daun; di bagian depan sulur daun dan bunga yang anggun dengan dua ular yang saling melingkari; di kedua sisi motif yang sama dengan ayam hutan menggantikan ular; dan di bagian belakang, motif yang sama dengan rusa kecil.

Sangat bagus juga kotak-kotak dari satu warna, kayu jati terang... kayu, seperti kotak foto berbentuk buku ini, pada penutupnya terdapat sulur daun yang anggun dan dua wayang yang cantik, pada punggungnya sulur daun dan dua naga.

Menawan adalah kotak kecil segi delapan dari dua warna dengan kaki-kaki yang sangat cantik; ia cocok untuk di atas meja rias, untuk menyimpan bedak dan kuasnya. Tidakkah kalian menemukan kotak-kotak kecil memanjang dengan tutup berukir tembus itu sangat cantik? Mereka untuk meja teh untuk meletakkan sendok-sendok kecilmu di dalamnya.

Manis, bukan, panel kecil itu, kayu jati bercorak terang dengan figur yang diukir dan bingkai sono gelap? Dan apa pendapatmu tentang perlengkapan meja tulis ini, buku cair, kotak perangko, dan pisau lipat? Kau ingin langsung membawanya pulang.

Saya turut bersedih, Nona, harus mengecewakanmu, tidak satu pun benda yang dipajak di sini boleh dijual, karena.... mereka semua sudah terjual?

Oh! Kami sangat menyesal bahwa para seniman, yang telah kau hormati dengan kedatanganmu, tidak dapat menawarkan kenang-kenangan atas kunjunganmu yang menyenangkan ke sanggar mereka untuk dibeli.

Alasannya sangat menyedihkan; mereka tidak memiliki modal kerja; karena itu mereka tidak memiliki karya yang tidak terjual sebagai persediaan, sementara selama masa bekerja dan menunggu pesanan mereka juga harus hidup, bukan?

Mereka adalah manusia biasa seperti kita, mereka belum belajar hidup hanya dari udara dan semacamnya.

Namun, kesulitan itu akan segera berakhir! Hari-hari baik telah tiba untuk seniman-seniman kita, mereka menuju masa depan yang indah!

Oost en West telah mengasihi mereka, dan sebagai permulaan, memampukan mereka untuk bekerja dengan indah selama beberapa bulan. Semua artikel bagus itu dibuat atas permintaan dan untuk perkumpulan tersebut, untuk etalase Sinterklas mereka yang akan datang di Batavia.

Ini hanya sebuah permulaan!

Kami sampaikan penghormatan rendah hati dan terima kasih kami kepada Anda, Perkumpulan Oost en West, untuk cita-cita luhur Anda, semangat Anda, pengabdian Anda, dan energi Anda! Semoga sebagai hadiah indah atas usaha Anda yang tak kenal lelah, segera tiba waktunya, demi berkah negeri-negeri ini, seluruh dunia beradab mencurahkan perhatiannya pada produk seni dari kerajaan Insulinde yang indah!

Jepara, Jepara kecil, seorang pesimis telah bernubuat, bahwa dalam seperempat abad lagi kau tidak akan menjadi apa-apa selain kandang babi! Percayakah kau bahwa ramalan suram itu akan terwujud? Kami memiliki keyakinan yang indah, bahwa kau akan membuktikannya salah dengan gemilang!

Kabaran tentang keindahan seni anak-anakmu bahkan telah sampai ke istana Wakil Raja, di mana sebuah panel yang sangat indah dari kayu sono menghiasi ruang tamu istri Gubernur Jenderal, dan di tempat kerja para pengukir kayu, sebuah contoh kedua sedang dibuat untuk Yang Mulia.

Diberkatilah, sudut kecil bumi yang tak ternoda, engkau, yang menghasilkan karya seni ilahi seperti dinding di Kabupaten Jepara, yang kami tidak berani menggambarkannya, terlalu sadar akan ketidakmampuan pena kami untuk melukiskan keindahan itu, itulah sebabnya kami melengkapinya dengan menawarkan fotonya di sini, — engkau tidak ditakdirkan untuk binasa, tetapi engkau ditakdirkan untuk, seperti di masa lalu, menjadi pembawa nama yang dikenal dan dihormati di mana-mana!


Rusdiyan Yazid
Rusdiyan Yazid

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment